Pemuda yang Memilih Membangun Desa dari Akar

Deri Hidayah sedang memaparkan program BUMDesa Padaherang (Foto: Deri Hidayah)

Di tengah banyaknya anak muda yang memilih meninggalkan desa untuk mencari masa depan, ada sebagian yang justru memilih jalan berbeda: melihat desa sebagai ruang untuk bertumbuh, berkarya, dan membangun masa depan.

Salah satunya adalah Deri Hidayah, S.E., seorang pemuda desa yang memilih untuk tidak hanya menjadi penonton dalam proses pembangunan, tetapi mengambil bagian dari hal-hal yang paling mendasar.

Bagi Deri, pembangunan desa tidak cukup hanya dilihat dari pembangunan fisik. Jalan, gedung, dan infrastruktur memang penting, tetapi fondasi utama desa sesungguhnya berada pada kualitas manusianya, kekuatan kelembagaannya, dan kemandirian ekonomi masyarakatnya.

Pemikiran tersebut tumbuh dari perjalanan Deri dalam berbagai aktivitas organisasi, kepemudaan, kemasyarakatan, serta pengelolaan kelembagaan desa. Dari pengalaman tersebut, ia melihat bahwa desa sebenarnya memiliki sumber daya yang sangat besar, tetapi belum seluruhnya dikelola menjadi kekuatan ekonomi dan sosial.

Lahan pertanian, kolam perikanan, UMKM, pemuda, keterampilan masyarakat, hingga aset desa merupakan potensi yang apabila dikelola secara serius dapat menjadi sumber kesejahteraan bersama.

Karena itu, Deri mulai mencoba membangun dari hal-hal yang sederhana.

Ia mempelajari pertanian, perikanan, pengembangan UMKM, hingga bagaimana sebuah usaha dapat dikelola dengan perhitungan yang sehat. Tidak selalu berjalan mulus. Ada percobaan yang berhasil, ada pula yang harus dievaluasi dan diperbaiki.

Namun dari proses tersebut muncul sebuah keyakinan: membangun ekonomi desa tidak harus selalu dimulai dari modal besar, tetapi dari keberanian untuk memulai dan kemampuan untuk mengelola potensi yang sudah tersedia.

Deri melihat pembangunan ekonomi bukan hanya tentang menciptakan satu usaha yang berhasil. Lebih jauh dari itu, ia ingin membangun sebuah ekosistem ekonomi desa, di mana satu potensi dapat menghidupkan potensi lainnya.

Pertanian dapat terhubung dengan peternakan. Perikanan dapat terhubung dengan UMKM. Produk masyarakat dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Pemuda dapat dilibatkan sebagai penggerak. Kelembagaan desa dapat menjadi ruang untuk mengorganisasi seluruh potensi tersebut.

Dengan demikian, manfaat pembangunan tidak berhenti pada satu orang, tetapi dapat menciptakan perputaran ekonomi yang lebih luas di tengah masyarakat.

Di sisi lain, Deri juga memandang pemuda sebagai salah satu kunci masa depan desa.

Pemuda tidak semestinya hanya diposisikan sebagai objek kegiatan, tetapi harus diberikan ruang untuk belajar, memimpin, berwirausaha, berinovasi, dan mengambil tanggung jawab terhadap masa depan desanya.

Perjalanan Deri Hidayah, S.E. tentu masih panjang. Apa yang dilakukan saat ini belum dapat disebut sebagai sebuah hasil akhir. Masih banyak keterbatasan, tantangan, dan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Namun dari langkah-langkah kecil tersebut, terlihat sebuah arah perjuangan yang jelas:

membangun manusia, memperkuat kelembagaan, mengembangkan potensi lokal, menggerakkan ekonomi, dan menciptakan kemandirian desa.

Ia tidak sedang berusaha mengubah desa dalam waktu singkat. Ia sedang mencoba meletakkan fondasi sedikit demi sedikit.

Sebab desa yang maju bukan hanya desa yang memiliki pembangunan fisik yang baik, tetapi desa yang masyarakatnya mampu berdiri di atas kekuatan sendiri, mengelola potensinya, menciptakan penghasilan, dan menyiapkan generasi berikutnya untuk melanjutkan pembangunan.

Dan bagi Deri Hidayah, S.E., perjuangan itu tidak perlu dimulai dari tempat yang jauh.

Cukup dimulai dari tanah tempat ia berpijak dan desa tempat ia berasal.***

Editor: admin

Previous Rangkaian Kegiatan Penyusunan RKPDES Tahun 2025

Leave Your Comment

Desa © 2025. All Rights Reserved